Artax | Registered Tax Consultant

Milenial, Teknologi, dan Strategi dalam Kesadaran Pajak

Tax is our milestone in life. Mulai dari pertama kali mendapatkan gaji, membeli kendaraan, atau sesederhana dinner dengan pacar di restoran, semua itu dikenakan pajak. Tanpa disadari masyarakat telah membayar dan menikmati manfaat dari pajak. Meski begitu, masih banyak masyarakat yang merasa ‘terpaksa’ untuk membayar pajak. Justru, milenial bangga sekali ketika bisa melaporkan SPT tepat waktu. Pandangan milenial tentang pajak, bisa merubah pandangan masyarakat tentang perpajakan.

 

Banyak dari generasi milenial yang sukses menjadi kreator konten, selebgram, youtuber, pengusaha di era digital ini. Mereka bahkan bisa meraup pendapatan puluhan bahkan ratusan juta per tahunnya. Tak hanya itu, generasi milenial lebih inisiatif dalam mencari informasi seputar aturan pajak melalui internet atau berkonsultasi kepada profesional pajak. Sehingga mereka lebih melek pajak. Generasi milenial yang suka berbagi informasi diharapkan bisa menjadi pendukung dalam penyebaran edukasi pajak.

 

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sendiri memiliki berbagai akun media sosial untuk membagikan berbagai informasi terkait peraturan dan kebijakan terbaru di dunia perpajakan. Karena peraturan perpajakan sendiri memang sering berubah mengikuti perkembangan perekonomian, perlu suatu media terpercaya untuk memberikan informasi yang tepat. Melalui edukasi pajak secara online, masyarakat dapat mengakses informasi secara mudah dan memperoleh transparansi di waktu yang bersamaan.

 

Ada strategi sederhana yang bisa dilakukan generasi milenial untuk meningkatkan kesadaran pajak. Salah satunya adalah Gerakan 3A (Buka MatA, TelingA, SuarA), yaitu sebuah gerakan kampanye media sosial untuk membuka mata untuk melihat realita, membuka telinga untuk mendengar masyarakat, dan membuka suara untuk memberikan dampak bagi peningkatan kesadaran pajak. Gerakan ini dapat disinergikan dengan berbagai konten melalui platform sosial media.

 

Buka Mata. Ketika mendapati lingkungan yang masih minim dengan kesadaran pajak, milenial bisa memulai dengan mengobservasi mengapa kesadaran pajak masih rendah. Dengan hasil observasi ini, generasi milenial dapat menentukan media yang sesuai dan relevan untuk mengedukasi masyarakat.

 

Buka Telinga. Masih banyak masyarakat yang tidak mengenal pajak karena tidak mendapatkan informasi dan edukasi perpajakan yang cukup, sehingga mereka perlu dibantu dalam mengerti pajak. Gerakan ini bertujuan untuk menemukan konten yang tepat untuk menyebarkan edukasi pajak. Konten dapat ditentukan dengan mulai mendekatkan diri dengan orang di sekitar, dengarkan apa yang masyarakat butuhkan.

 

Buka Suara. Gerakan ini untuk menyampaikan informasi dan pendapat milenial terkait isu perpajakan secara efektif. Konten yang telah dibuat dapat disebarkan dengan cara yang kreatif. Bisa mengajak tokoh publik yang berintegritas dalam perpajakan untuk berbagi cerita atau menggunakan gurauan, meme, dan mengikuti tren agar lebih akrab dengan masyarakat.

 

Penyebaran konten dapat didukung dengan tools seperti marketing ads serta menentukan strategi yang tepat. Misalnya, menggunakan media broadcast di Whatsapp, mengingat Whatsapp banyak digunakan dari generasi boomers dan generasi X. Misalnya ketika muncul hoaks terkait perpajakan, hal ini dapat diluruskan dalam bentuk forward pesan. Banyak portal berita di Indonesia yang menggunakan cara ini juga untuk menyebarkan beritanya.

 

Upaya peningkatan kesadaran pajak memang sangat penting dalam membentuk kepatuhan pajak masa depan bangsa, terutama generasi milenial yang sebentar lagi akan memasuki angkatan kerja dan menjadi wajib pajak. Bersama-sama, generasi milenial bisa saling membantu untuk memajukan, meningkatkan kesejahteraan, dan kemakmuran negara dengan ketaatan pajak dengan kemajuan teknologi. Oleh karena itu, mari membantu masyarakat untuk lebih sadar pajak.